Islamic Motivation
Lopez Casanova: Bibel Mengantarnya kepada Kebenaran Islam
REPUBLIKA.CO.ID, Lopez Casanova terlahir dan dibesarkan dalam sebuah
keluarga Protestan yang sangat taat. Dalam keluarganya ada beberapa
pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orangtuanya menginginkan
agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukan
pada sekolah Bibel.
Namun, Allah memberinya hidayah. Dalam
perjalanan hidupnya Lopez akhirnya menemukan Islam. Ia pun memeluk agama
Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai agama terakhirnya.
Perjalanannya menemukan Islam berawal dari Bibel yang dipelajarnya sejak
kecil.
‘’Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan
yang relijius yang memungkinkanku mempelajari Bibel. Jika tidak, aku
mungkin tidak mampu memahami pesan Islam," ujarnya.
Lopez
menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap
Tuhan. ‘’Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai
agama dari Tuhan." Lalu bagaimana perjalanan spiritualnya dalam
menemukan Islam?
***
Lopez tumbuh dalam keluarga yang
relijius. Keluarga dari pihak ibu Lopez adalah penganut Kristen
Protestan yang taat. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dan
senantiasa hidup dengan perasaan takut terhadap Tuhan. Sedangkan
keluarga sang ayahnya adalah pemeluk Katolik Roma.
Maka jadilah
Lopez sebagai seorang Kristen Protestan. Di sekolah menengah, Lopez
bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang
bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi,
juga seorang Saksi Yehuwa.‘’Aku tak pernah menghakimi apa yang
mereka yakini, dan akupun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok
agama manapun,’’ ujarnya.
Menurut dia, Kristen non-denominasi
seperti dirinya selalu diajarkan bahwa "Jika kamu percaya Kristus, maka
kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan,
apapun denominasi yang membedakan kita."
Meski ada banyak
kepercayaan di sekitarnya, Lopez selalu diyakinkan bahwa hanya ada satu
Tuhan. Menurut Lopez, perbedaan interpretasi dan perbedaan versi Bibel
yang digunakan oleh umat Kristen membuat agama tersebut terbagi menjadi
beberapa bagian.
Padahal, kata dia, menambah dan mengurangi
naskah Bibel adalah dosa. Namun, selalu saja muncul sektor baru yang
menciptakan versi Bibel yang baru. Untuk itu, ibunya selalu menekankan
sejak ia masih kecil untuk menolak buku-buku agama, pamflet, maupun
literatur Kristen dari orang lain.
"Bibel sudah cukup menjadi
rujukan," katanya menirukan ucapan ibunya. Seiring perjalanan Lopez
dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. ‘’Aku tidak
mengetahui seberapa lama Bibel telah diubah dan dimodifikasi. Setiap
golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang
benar, sedang yang lainnya salah.”
"Temanku
beralasan, negara manapun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan
bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran," katanya.
Saat itu, tahun 2006, Lopez mendengar kata “Alquran” untuk pertama
kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak
mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan
besar di AS.
Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan
dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang
dilakukan teman-teman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk
ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.
Lopez pun mencoba
berpuasa. Bukan karena tertarik menjadi Muslim, namun semata untuk
mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. "Itupun
karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama
40 hari," katanya.
Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman
Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping Compact Disk (CD) yang
ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, "Semua agama yang salah adalah
benar menurut kitab mereka." Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam,
agama asing yang salah di matanya.
***
Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan
melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan
timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil
mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.
Sepulang
dari Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih
banyak pengabdian pada Tuhan. "Permintaan itu dijawab-Nya dengan
memberiku seorang teman Muslim," katanya.
Ia beberapa kali
mengajak teman Muslimnya ke gereja, dan berpikir bahwa temannya akan
terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.Suatu saat, temannya
mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, namun ia menyayangkan
kepercayaan jamaatnya yang mempercayai Trinitas.
"Sayangnya,
temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya
tertawa dan meralatnya," kata Lopez. Ia sempat berpikir tentang betapa
fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama
lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya
sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.
Suatu
hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat
di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. "Sementara, aku
bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil
memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum."
Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja
bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan mobil itu, temannya memohon
izin memutar CD Alquran di mobilnya, karena ia sedang mempersiapkan diri
untuk shalat.
"Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya," kata Lopez.
Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat
Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu
berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.
"Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen."
Setelah pengalaman di mobil waktu itu, perasaan takut sekaligus ingin
tahu ikut menyergapnya. Ia memutuskan melihat isi sebuah DVD berjudul
"The Legacy of Prophet Muhammad (Warisan Nabi Muhammad)."
Usai
memutarnya, Lopez menangis untuk alasan yang lagi-lagi tak dipahaminya.
Ia mengagumi sosok Muhammad SAW dan belajar tentang bagaimana menjadi
umat yang baik dari sosoknya.
Lopez berkesimpulan, kedisiplinan
dalam Islam membuatnya menjadi umat Kristen yang lebih baik, dan itu
menjadi alasannya untuk terus mempelajari Islam. Keingintahuan Lopez
membawanya belajar lebih jauh tentang Islam, dan ia sampai pada konsep
monoteisme.
"Aku berhenti sejenak, karena itu seperti sebuah
persimpangan. Aku hanya berniat mempelajari kesamaan Islam dan Kristen,
sedangkan monoteisme berlawanan dengan konsep Trinitas."
Pada
titik sulit itu, ia berusaha tidak terpengaruh oleh siapapun, baik dari
kelompok Kristen maupun Islam, sehingga ia memutuskan untuk
mempelajarinya seorang diri.
Lopez pun membaca seluruh bagian
tentang Yesus dalam Bibel, dan menelaah kata-kata yang dikutip dari
perkataan Yesus. Saat itu, ia menyadari bahwa ternyata Yesus mengajarkan
monoteisme, bukan Trinitas seperti yang diyakininya sejak lama.
"Di sini aku menemukan bahwa pesan Yesus selaras dengan Islam."
Sampai di situ, Lopez merasa tertipu dengan kecewa. Ia menyadari bahwa
segala praktik agama yang diamalkannya bukanlah yang diajarkan Yesus.
"Yang terjadi adalah aku merasa dibelokkan dari menyembah Tuhan menjadi
menyembah Yesus. Aku menjadi paham mengapa ada bagian dari Kristen yang
tidak mempercayai Trinitas."
Selesai dengan penjelasan Bibel,
Lopez memberanikan diri meminjam salinan terjemahan Alquran dari seorang
teman Muslim yang juga mengajarinya cara shalat. Lopez mulai
melakukannya lima kali sehari untuk belajar, karena ia belum menjadi
Muslim.
“Setiap selesai, aku berdoa pada Tuhanku agar
mengampuniku karena telah melakukan shalat, seolah aku telah melakukan
sesuatu yang salah. Ada pertempuran dalam batinku.”
Setelah
beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya, Lopez memutuskan
berislam. Namun hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan
takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku
mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari namun jauh
dari-Mu.”
Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil lebih
baik dialaminya jika menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat
adalah pilihan yang salah. Ia tiba di tujuan dengan selamat dan
mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.
Jumat itu, 28
Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam.
"Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai
shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus
ketundukan kepada Tuhan.
Lopez Casanova: Bibel Mengantarnya kepada Kebenaran Islam
REPUBLIKA.CO.ID, Lopez Casanova terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat. Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orangtuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukan pada sekolah Bibel.
Namun, Allah memberinya hidayah. Dalam perjalanan hidupnya Lopez akhirnya menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai agama terakhirnya. Perjalanannya menemukan Islam berawal dari Bibel yang dipelajarnya sejak kecil.
‘’Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang relijius yang memungkinkanku mempelajari Bibel. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam," ujarnya.
Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. ‘’Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan." Lalu bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?
***
Lopez tumbuh dalam keluarga yang relijius. Keluarga dari pihak ibu Lopez adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dan senantiasa hidup dengan perasaan takut terhadap Tuhan. Sedangkan keluarga sang ayahnya adalah pemeluk Katolik Roma.
Maka jadilah Lopez sebagai seorang Kristen Protestan. Di sekolah menengah, Lopez bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa.‘’Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini, dan akupun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama manapun,’’ ujarnya.
Menurut dia, Kristen non-denominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa "Jika kamu percaya Kristus, maka kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apapun denominasi yang membedakan kita."
Meski ada banyak kepercayaan di sekitarnya, Lopez selalu diyakinkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Menurut Lopez, perbedaan interpretasi dan perbedaan versi Bibel yang digunakan oleh umat Kristen membuat agama tersebut terbagi menjadi beberapa bagian.
Padahal, kata dia, menambah dan mengurangi naskah Bibel adalah dosa. Namun, selalu saja muncul sektor baru yang menciptakan versi Bibel yang baru. Untuk itu, ibunya selalu menekankan sejak ia masih kecil untuk menolak buku-buku agama, pamflet, maupun literatur Kristen dari orang lain.
"Bibel sudah cukup menjadi rujukan," katanya menirukan ucapan ibunya. Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. ‘’Aku tidak mengetahui seberapa lama Bibel telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”
"Temanku beralasan, negara manapun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran," katanya.
Saat itu, tahun 2006, Lopez mendengar kata “Alquran” untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.
Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan teman-teman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.
Lopez pun mencoba berpuasa. Bukan karena tertarik menjadi Muslim, namun semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. "Itupun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari," katanya.
Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping Compact Disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, "Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka." Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.
***
Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.
Sepulang dari Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. "Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim," katanya.
Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja, dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, namun ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang mempercayai Trinitas.
"Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya," kata Lopez. Ia sempat berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.
Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. "Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum."
Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya, karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.
"Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya," kata Lopez.
Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.
"Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen."
Setelah pengalaman di mobil waktu itu, perasaan takut sekaligus ingin tahu ikut menyergapnya. Ia memutuskan melihat isi sebuah DVD berjudul "The Legacy of Prophet Muhammad (Warisan Nabi Muhammad)."
Usai memutarnya, Lopez menangis untuk alasan yang lagi-lagi tak dipahaminya. Ia mengagumi sosok Muhammad SAW dan belajar tentang bagaimana menjadi umat yang baik dari sosoknya.
Lopez berkesimpulan, kedisiplinan dalam Islam membuatnya menjadi umat Kristen yang lebih baik, dan itu menjadi alasannya untuk terus mempelajari Islam. Keingintahuan Lopez membawanya belajar lebih jauh tentang Islam, dan ia sampai pada konsep monoteisme.
"Aku berhenti sejenak, karena itu seperti sebuah persimpangan. Aku hanya berniat mempelajari kesamaan Islam dan Kristen, sedangkan monoteisme berlawanan dengan konsep Trinitas."
Pada titik sulit itu, ia berusaha tidak terpengaruh oleh siapapun, baik dari kelompok Kristen maupun Islam, sehingga ia memutuskan untuk mempelajarinya seorang diri.
Lopez pun membaca seluruh bagian tentang Yesus dalam Bibel, dan menelaah kata-kata yang dikutip dari perkataan Yesus. Saat itu, ia menyadari bahwa ternyata Yesus mengajarkan monoteisme, bukan Trinitas seperti yang diyakininya sejak lama.
"Di sini aku menemukan bahwa pesan Yesus selaras dengan Islam."
Sampai di situ, Lopez merasa tertipu dengan kecewa. Ia menyadari bahwa segala praktik agama yang diamalkannya bukanlah yang diajarkan Yesus. "Yang terjadi adalah aku merasa dibelokkan dari menyembah Tuhan menjadi menyembah Yesus. Aku menjadi paham mengapa ada bagian dari Kristen yang tidak mempercayai Trinitas."
Selesai dengan penjelasan Bibel, Lopez memberanikan diri meminjam salinan terjemahan Alquran dari seorang teman Muslim yang juga mengajarinya cara shalat. Lopez mulai melakukannya lima kali sehari untuk belajar, karena ia belum menjadi Muslim.
“Setiap selesai, aku berdoa pada Tuhanku agar mengampuniku karena telah melakukan shalat, seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah. Ada pertempuran dalam batinku.”
Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya, Lopez memutuskan berislam. Namun hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari namun jauh dari-Mu.”
Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil lebih baik dialaminya jika menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah pilihan yang salah. Ia tiba di tujuan dengan selamat dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.
Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. "Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan.