Khamis, 19 April 2012

K. H. Muhammad Arifin Ilham

Sahabatku fillah inilah diantara energi yg membangkitkan semangat & kesenangan ibadah & taat kita krn, 
1. Kuatnya iman kpd Allah yg Menciptakan, Mengatur, Menguasai, Menatap, Mendengar..., 
2. Sbg rasa syukur atas ni'mat Allah yg luar biasa, 
3. Ingat kematian yg semakin mendekat, 
4. Melihat org yg wafat, 
5. Ingat dahsyatnya sakaratul maut, 
6. Ingat galian 2 meter kuburan, akhir kisah kita berbantal tanah,
 7. Melihat kuburan, "sedang apa & apa yg terjadi pd mrk di alam kubur", 
8. Ingat dahsyatnya Qiyamat mns & gunung2 berterbangan seperti laron, 
9. Ingat Padang Mahsyar, semua mns jin dikumpulkan u mempertanggungjawabkan perbuatannya, 
10. Ingat indahnya Syurga selama2nya & ngerinya siksa Neraka,
11. Melihat ulama yg istiqomah, 
12. Melihat org yg ma'siyat, kok berani ma'siyat?, kok bisa ma'siyat?, kaya lama saja hidup ini, 
13. Melihat org yg papa, sakit, cacat. 
SubhanAllah semuanya menjadi RENUNGAN HIKMAH pembangkit semangat KETAQWAAN kita sahabatku, semoga ALLAH selalu membuka hati pikiran kita u mengambil hikmah atas semua takdirNYA...aamiin.

Ahad, 15 April 2012

Relasi TUHAN dan Hamba

 
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar*

Dalam kajian tasawuf, tidak ada artinya berbicara tentang apa pun tanpa berbicara tentang Tuhan. Segala sesuatu selain Tuhan disebut kosmos, termasuk di dalamnya alam (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos). Tuhan adalah asalusul dari segala sesuatu. Semua bersumber dari-Nya dan kelak semuanya akan kembali kepada- Nya, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kita berasal dari Yang Satu kemudian menjadi banyak dan kembali ke Yang Satu. Dengan demikian, yang banyak ini sesungguhnya siapa?

Secara matematika juga menunjukkan bahwa sebanyak apa pun sebuah bilangan pasti berasal dari angka 1. Bukankah angka 2 berasal dari angka 1 + 1, bukankah 1.000 merupakan kelipatan 1.000 dari angka 1, dan seterusnya. Memang, angka 1 tidak sama dengan 2, 1.000, dan seterusnya, tetapi bukankah angka-angka itu tetap merupakan himpunan dari angka 1. Jadi, tidak ada artinya kita berbicara angka sebanyak apa pun tanpa berbicara tentang angka 1, karena bukankah angka yang banyak itu tetap merupakan himpunan dari angka 1?

Keterpisahan dan sekaligus ketakterpisahan antara Tuhan dan hamba melahirkan wacana tersendiri di dalam teologi dan tasawuf. Para teolog atau ulama kalam lebih menekankan aspek keterpisahan dan ketakterbandingan antara Tuhan dan hamba. Sedangkan kalangan sufi lebih menekankan aspek ketakterpisahan dan keserupaan antara Tuhan dan hamba, meskipun dibatasi dengan istilah "keserupaan dalam ketakterbandingan" ( similarity in uncomparability).

Allah SWT dalam kapasitas Ahadiyat-Nya tentu saja tak terbandingkan dan terpisah dengan makhluk-Nya. Dia "yang tidak ada satu pun setara dengannya" (). Namun, dalam kapasitas Wahidiyat-Nya, yang di dalamnya diperkenalkan nama-nama-Nya, meniscayakan antara diri-Nya dengan hamba. Hubungan antara Tuhan dan hamba ini melahirkan konsep Tuhan (Rab) dan hamba (marbub), Ilah dan Ma'luh, Khalik dan makhluk.

Dalam konteks ini seolah-olah kalangan sufi —dan ini yang banyak ditentang oleh para teolog- — beranggapan Tuhan butuh terhadap makhluk, karena eksistensi sebuah kata meniscayakan sebuah kata lainnya, atau di dalam hubungan polaritas-dialektis, eksistensi satu sisi meniscayakan eksistensi sisi lainnya. Bukankah tidak akan ada budak tanpa ada tuan, tidak ada Rab tanpa marbub, tidak ada Ilah tanpa ma'luh, tidak ada makhluk tanpa Khalik, dan tidak ada ma'lum (objek pengetahuan) tanpa 'Alim (subjek yang mengetahui). (subjek yang mengetahui). Tentu, demikian pula sebaliknya, sulit membayangkan adanya tuan tanpa ada budak, ada marbub tanpa ada Rab, adanya Khalik tanpa ada makhluk, dan adanya 'Alim tanpa ada ma'lum?

Alasan para sufi berpendapat demikian karena bukankah namanama dan sifat Tuhan memerlukan adanya berbagai lokus atau tempat manifestasikan dan mengaktualisasikan diri? Dengan kata lain, tanpa lokus maka nama-nama dan sifat Tuhan tidak mungkin dapat teraktualisasi. Jika itu semua tidak bisa teraktualisasi maka menjadi tidak berarti nama-nama dan sifat itu. Jika nama-nama dan sifat itu tidak punya arti maka untuk apa Tuhan memperkenalkan kapasitas Wahidiyat-Nya? Padahal, dalam artikel-artikel terdahulu sudah dijelaskan bahwa Tuhan dengan penuh perencanaan menciptakan makhluk-Nya untuk mengenal diri-Nya, sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi yang terkenal dalam dunia tasawuf itu. Dalam perspektif tasawuf, hubungan primer Allah dan makhluknya terjalin bagaikan langit dan bumi, jiwa dan roh, dan Yang dan Yin. Tuhan adalah Mahaagung, Mahatinggi, Mahaterang, dan Mahakreatif, sedangkan makhluknya kecil, rendah, gelap, dan reseptif atau menerima pengaruh. Dari hubungan seperti ini, Tuhan adalah Yang dan makhluk adalah Yin. Disebut demikian karena Tuhan memberi pengaruh (Mu'atstsir/Yang) dan makhluk menerima pengaruh (ma'tsur/Yin).

Di dalam mengimplementasikan kapasitasnya sebagai khalifah alam semesta (khalaif al-ardl), manusia (mikrokosmos) juga mempunyai kapasitas Yang, karena ia harus memberi pengaruh terhadap alam semesta (makrokosmos) sebagai Yin. Kapasitas Yang yang diperoleh manusia tentu berbeda dan tak dapat dibandingkan de - ngan kapasitas Yang Tuhan. Kapasitas Yang pada diri manusia tetap dalam kapasitasnya sebagai ham ba ('abid) di mana manusia secara total harus tunduk dan patuh kepada Tuhan sebagai Ma'bud.

Allah SWT sendiri dalam kapasitasnya sebagai Tuhan (Rab dan Ilah) mempunyai kapasitas Yin, karena Ia mencipta dan memelihara makhluk-Nya dengan penuh kasih sayang. Dengan demikian, selain memberi pengaruh (mu'atstsir) dalam kapasitasnya sebagai al- Jalal, Ia juga menerima pengaruh (Ma'tsur) dalam kapasitas-Nya sebagai al-Jamal. Namun demikian, kapasitas Jamaliyyah Tuhan tentu tidak bisa disetarakan dengan jamaliyyah manusia. Bagaimanapun manusia sebagai bagian dari makhluk dan hamba terikat kepada Tuhan.

Allah SWT sebagai Tuhan "membutuhkan" hamba untuk disebut sebagai Tuhan, karena sulit membayangkan Sosok Tuhan tanpa hamba. Sebaliknya, manusia tidak mungkin ada dan mewujud sebagai hamba tanpa adanya Tuhan yang menciptakan dan sekaligus sebagai Tuhannya. Dengan demikian, Tuhan dan hamba saling membutuhkan dalam kapasitas yang berbeda. Relasi hamba kepada Tuhan adalah menyembah (ta'abbud) dan relasi Tuhan terhadap hambanya adalah memberi anugrah (isti'anah).


* Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah,
Wakil Menteri Agama RI

Sabtu, 14 April 2012

Abdul Malik Ghozali: Ada Dua Kelompok Penyebar Hadis Palsu


REPUBLIKA.CO.ID,  Tanpa kita sadari, mungkin kita sering mengamalkan sebuah ajaran yang tidak bersumber dari Allah dan Rasulullah SAW. Namun, hal itu sudah mayoritas dikerjakan umat Islam. Mereka mengerjakan hal itu karena termotivasi oleh dorongan akan ganjaran pahala yang besar untuk meningkatkan ibadah kepada Allah. Dan itu digunakan sebagai keutamaan dalam beramal (fadha`il al-a’mal).

Salahkah perbuatan itu bila digunakan untuk keutamaan beramal kepada Allah? “Tentu saja salah bila mereka hanya menerimanya saja mentah-mentah tanpa mau mempelajarinya lagi,” ujar Abdul Malik Ghozali Lc MA, staf pengajar Ulumul Hadits di Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Lampung.

Lalu siapakah sesungguhnya yang paling banyak dan menyebarkan hadis palsu itu? Menurut alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, ini, ada dua kelompok besar penyebar hadis palsu itu. “Kalangan sufi dan politikus,” ujarnya kepada wartawan Republika, Syahruddin El-Fikri, beberapa waktu lalu.

Berapa banyak jumlah hadis palsu, apa saja hadis palsu yang banyak diamalkan masyarakat Muslim, siapa yang membuatnya, apakah semua hadis dalam sahih Bukhari itu sahih semua? Berikut penuturannya:

Para ulama mengelompokkan hadis dalam beberapa bagian. Ada hadis sahih, hasan, dhaif, dan lainnya. Berapa banyak jumlah hadis sahih yang Anda ketahui?

Secara pasti, saya tidak tahu. Yang jelas, jumlahnya sangat banyak, bisa puluhan hingga ratusan ribu. Dan semua hadis sahih itu ada di berbagai literatur, seperti dalam kitab hadis Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Ashabus Sunan, dan lainnya. Jadi, tidak hanya terbatas dalam satu kitab hadis sahih saja. Misalnya, hanya dalam Shahih Bukhari saja atau Shahih Muslim saja, atau hanya Shahih Bukhari-Muslim (Shahihain) saja, tidak. Ada banyak hadis sahih yang didapatkan oleh para ahli hadis lainnya seperti Abu Dawud, An-Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya.

Banyak orang ingin mengamalkan sunnah, namun khawatir sumbernya tidak sahih. Sebenarnya apa saja kriteria hadis sahih itu?
Kriterianya sangat banyak. Beberapa di antaranya mencakup lima hal. Pertama, hadis itu harus bersambung (mutawatir) sanadnya (perawi) hingga sampai pada Rasulullah SAW. Antara perawi yang satu dengan lainnya tidak terdapat cacat, misalnya berbohong atau menipu. Mereka mengenal riwayat hidup para perawi yang ada di atasnya (muruah), dan menjauhi segala sesuatu yang tidak pantas untuk dikerjakan.
Ketiga, perawinya harus dhabit, hafalannya sangat kuat dan atau punya catatan tentang asal muasal hadis yang didapatkannya itu. Ia juga mempunya pengetahuan yang baik mengenai kualitas hadis itu, apakah sahih atau dhaif.

Keempat, tidak ada illat (alas an perbedaan) dalam matan. Misalnya, hadis tentang shalat, jika ia menemukan perawinya dari si A, maka dalam hadis lain yang serupa ia juga menemukan bunyi yang sama dan tidak perbedaan di dalamnya. Kriteria yang kelima, hadis sahih itu tidak ada kejanggalan atau keraguan di dalamnya. Hadis itu juga tidak bertentangan dengan Alquran maupun hadis lainnya.

Apakah semua hadis yang ada di dalam kitab Shahih Bukhari itu benar-benar sahih semua?
Secara spesifik saya belum pernah melakukan penelitian sejauh itu. Memang ada ulama yang mencoba melakukan verifikasi hadis dalam Shahih Bukhari, seperi Daruquthni, Muhammad al-Ghazali, dan lainnya. Menurut mereka, ada yang tidak sahih. Namun, mayoritas ulama termasuk Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan, bahwa hadis dalam kitab Shahih Bukhari sangat sahih. Sebab, Imam Bukhari benar-benar berupaya maksimal dalam mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk memilah hadis yang benar-benar bersumber dari Rasulullah SAW secara utuh dan mengenyampingkan hadis yang diriwayatkan oleh para perawi yang dinilainya tidak layak.

Misalnya, bila menemukan sebuah hadis, Imam Bukhari berupaya mencari keterangan dari sumber aslinya. Misalnya, hadis itu diriwayatkan oleh ‘A’, jika masih hidup maka Bukhari akan berusaha menemui si ‘A’. Dan bila ia mendapati ‘A’ pernah menyakiti seekor hewan, misalnya membunuh nyamuk, maka perawi itu akan ditinggalkan oleh Bukhari. Imam Bukhari tidak akan mengambil atau meriwayatkan hadis dari perawi semacam itu.

Jadi, kualitas hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari benar-benar terjaga dengan baik dari sumber tepercaya. Begitu juga dengan Imam Muslim. Walaupun banyak ulama yang menempatkannya periwayat hadis sahih terbaik setelah Bukhari. Karenanya, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, maka kualitas hadis itu benar-benar baik kualitasnya.

Berapa banyak jumlah hadis dhaif dibandingkan dengan yang sahih?

Hingga saat ini belum ada kajian spesifik mengenai hal itu. Tapi, jika dikaji serius, kemungkinan banyak sekali hadis yang dhaif (lemah) dibandingkan dengan yang sahih. Seringkali kita mendengar ustaz berceramah dan mengatakan “uthlubul ilma walau bi as-sin”(Tuntutlah ilmu hingga sampai ke negeri Cina). Ini bukan hadis, tapi hanya kata-kata hikmah atau bijak. Begitu juga dengan pernyataan “i’mali ad-dunyaka ka`annaka ta’isu abada wa’mal li akhiratika ka`annaka tamutut ghadan” (Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu, seakan-akan kamu akan mati besok pagi). Ini juga bukan hadis Nabi SAW, melainkan hanya kata-kata bijak saja.

Lalu ada juga ungkapan ‘Terong itu obat dari segala macam penyakit’, ini adalah hadis maudhu (palsu). Memang banyak sekali ungkapan-ungkapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, padahal itu bukan. Rasul melarang umatnya berbuat demikian. “Man kadzdzaba ‘alayya muta’ammidan fa al-yatabawwa’ maq’adahu min an-nar” (Barang siapa yang berbohong atas namaku (Rasul SAW), maka tempat duduknya yang pas adalah di neraka). Karena itu, sebaiknya umat Islam berhati-hati menggunakan sebuah dalil agama, apalagi bila mengutip hadis, padahal hal itu belum tentu hadis dari Rasul SAW.

Faktor apa yang menyebabkan munculnya hadis-hadis palsu itu?
Sedikitnya ada dua hal. Pertama soal fanatisme mazhab untuk membela kepentingan kelompoknya. Dan yang kedua, untuk memotivasi masyarakat atau umat agar rajin beribadah kepada Allah SWT (fadha`il al-a’mal, keutamaan beramal).

Bagaimana dengan faktor sufi dan politikus?

Ya, kedua kelompok ini disinyalir banyak melakukan atau membuat hadis-hadis palsu. Kalangan sufi diduga membuat berbagai kalimat-kalimat hikmah (bijak) untuk mengajak umat supaya rajin beribadah. Hal itu dilakukan karena mereka prihatin terhadap umat yang enggan melaksanakan shalat, puasa, menunaikan zakat, ataupun beribadah haji, padahal mereka itu mampu. Supaya rajin, maka dijanjikanlah pahala yang besar dan balasan yang banyak, supaya umat termotivasi untuk beribadah.
Adapun para politikus, mereka membuat hadis-hadis palsu karena ingin membangga-banggakan kelompoknya. Seakan hanya kelompoknya saja yang benar dan yang lain salah.

Salahkah mereka yang beramal dengan hadis-hadis dhaif?

Secara aturan pasti salah apalagi tidak mau mempelajari sumbernya dan hanya menerima apa adanya saja. Namun, untuk alasan tertentu, mereka tidak bisa dikatakan salah 100 persen, toh mereka mendapatkan pemahaman dan pelajaran yang demikian dari yang mengajarinya. Nah, si pengajar ini apakah dia ustaz, kyai, ulama, harusnya memberitahukan hal itu. Sehingga umat menjadi paham.

Bagaimana dengan karya Al-Mawardi dalam kitabnya al-Ahkam as-Sulthaniyah yang menetapkan sejumlah kriteria bagi pemimpin Islam, dan salah satunya adalah harus berasal dari suku Quraisy?

Memang, banyak perdebatan kalangan ulama mengenai isi kitab itu, terutama berkaitan dengan kriteria pemimpin Islam tersebut. Kalau hanya pemimpin Islam itu harus berasal dari suku Quraisy, walau Rasul SAW sangat membanggakan suku ini, kita tidak bisa serta merta menerima kriteria seperti itu. Sebab, pasti hal itu akan memancing isu SARA yang bisa berakibat buruk bagi perkembangan dan persatuan dunia Islam.

Bagaimana dengan hadis yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin?

Kita tidak bisa melihat sebuah hadis hanya berdasarkan makna harfiah. Ada sabab musabab atau asbab al-wurud-nya (sebab-sebab munculnya hadis itu, red). Ada pula kualitas periwayatnya, apakah ia benar-benar terkenal sebagai orang yang rajin beribadah, lalu bagaimana dengan sanad dan matan-nya, apakah bersambung atau tidak.
Mengenai hadis La yufliha al-qawmu walau amruhum imra`atan (Tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh seorang perempuan), harus benar-benar dicek lagi sebab-sebabnya. Memang, menurut beberapa kalangan, hadis itu sahih. Namun, ada yang menilainya isinya sahih, tapi tidak bisa diberlakukan secara umum, artinya hanya kasus per kasus saja.

Jika memang tidak boleh perempuan menjadi pemimpin, kenapa para sahabat Rasul diam saat terjadi peperangan di Siffin yang mempertemukan antara Aisyah dan Ali bin Abi Thalib. Aisyah ditunjuk menjadi pimpinannya. Kenapa banyak sahabat diam saja, tidak protes.

Menurut sejumlah kalangan lainnya, hadis diatas diungkapkan karena saat itu putri Raja Kisra tidak terpelajar untuk menjadi seorang pemimpin. Ia hanya banyak berada di dalam istana dan hamper tidak pernah bergaul dengan masyarakat lain. Sehingga dikhawatirkan, jika dirinya memimpin, maka rakyatnya akan rusak dan menderita bila dipimpin oleh orang yang demikian.

Kalangan ulama sepakat, bahwa hadis itu harus diperlakukan secara khusus dalam hal ibadah dan bukan dalam bidang sosial. Maksudnya, selama perempuan itu memiliki kapabilitas dan kemampuan yang baik, tidak ada salahnya dia menjadi seorang pemimpin. Perempuan boleh menjadi hakim bahkan presiden. Memang ada perbedaan di kalangan ulama soal presiden perempuan. Tapi ada pula yang membolehkan, karena posisi presiden bukanlah jabatan tertinggi di negeri ini. Yang tertinggi adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Dalam bidang ibadah, perempuan tidak bisa menjadi pemimpin. Misalnya menjadi imam shalat, seorang perempuan tidak boleh menjadi imam laki-laki, dia hanya boleh menjadi imam shalat perempuan.

Mengenai kata bahwa “Umat-ku di akhir zaman nanti akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang masuk surga yaitu ana wa ashhabi, dan adapula ungkapan “Umat-ku di akhir zaman nanti akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang masuk neraka yaitu az-zanadiqah (kafir zindiq). Menurut Anda bagaimana dengan kedua hal tersebut?

Ya, ini juga terjadi pertentangan dan perdebatan di kalangan ulama. Namun, kita melihatnya itu adalah adanya sebuah tambahan makna atau tambahan matan. Maksud 73 itu bukan berarti benar 73, tapi itu untuk menunjukkan betapa banyaknya perbedaan di kalangan umat Islam di akhir zaman ini.

Jumaat, 13 April 2012

Inilah Mukjizat Alquran tentang Langit yang Mengembalikan

REPUBLIKA.CO.ID, Atmosfer yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Menurut Harun Yahya, penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi.

''Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi "pengembalian" dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut,'' ujar pemilik nama asli Adnan Oktar itu.

Keberadaan lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.

Menurut Harun Yahya, lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.

Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.

Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partikel radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.

Semua fenomena alam di atas, sesungguhnya telah diungkapkan dalam Alquran pada abad ke-7 M, jauh sebelum ilmu pengetahuan mengungkap fakta-fakta tersebut. Mari simak Alquran surah At-Tariq [86] ayat ke-11 tentang fungsi langit yang "mengembalikan".

"Demi langit yang mengandung hujan." (QS 86:11)

Menurut Harun Yahya, kata yang ditafsirkan sebagai "mengandung hujan" dalam terjemahan Alquran ini juga bermakna "mengirim kembali" atau "mengembalikan".
Menurut tafsir, raj'i berarti kembali berputar. Hujan dinamakan raj'i dalam ayat ini, karena hujan berasal dari uap yang naik dari bumi ke udara, kemudian turun ke bumi, kemudian kembali ke atas, dan dari atas kembali ke bumi, begitulah seterusnya.

Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Alquran. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Alquran adalah firman Allah.


Jumaat, 6 April 2012

Luasnya Dimensi Ibadah

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Makmun Nawawi

Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, ia berkata, “Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi, mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka’.

Nabi bersabda, ‘Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang dengannya engkau bisa bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar makruf nahi mungkar adalah sedekah, dan bersetubuh (dengan istrinya) adalah sedekah’. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendapatkan pahala sedangkan ia melampiaskan syahwatnya?’ Rasulullah bersabda, ‘Bukankah seseorang yang menyalurkan syahwatnya pada yang haram ia memperoleh dosa? Demikian pula jika ia menempatkan syahwatnya pada yang halal maka ia pun akan mendapatkan pahala’.” (HR Muslim).

Ketika kita diserbu oleh pesona iklan yang luar biasa dari banyak produk, impian pun melambung tinggi untuk segera memilikinya, seperti rumah, kendaraan, elektronik, atau perkakas rumah yang serbamewah. Ketika gaya hidup mewah sudah menyergap, korupsi menjadi mata pencaharian, maka banyak orang yang berada di bawah garis kemiskinan, hanya bisa gigit jari. Ada yang apatis, muak, jengah, namun tak urung ada pula yang terjerat dalam hayalan yang berkepanjangan.

Di tengah interaksi kehidupan Nabi dan para sahabatnya, bukan tidak ada orang yang kaya raya. Namun, bagaimana kekayaan yang mereka miliki justru dipersembahkan untuk sesuatu yang lebih agung, lebih luhur, dan abadi, yakni di jalan Allah. Sehingga, cita-cita dan obsesi para sahabat yang miskin yang melihatnya pun bukan untuk memiliki harta yang melimpah ruah, kendaraan yang mewah, istana yang megah, atau baju yang indah seperti mereka. Namun, bagaimana mereka juga bisa beramal seperti sahabat yang kaya demi kebahagiaan di akhirat. (QS al-A‘la: 16-17, dan adh-Dhuha: 4).

Hadis di atas mengajarkan kepada kita bahwa dimensi ibadah dalam Islam itu begitu luas. Bukan hanya sebatas harta, namun juga menjangkau banyak sisi kehidupan yang nyaris semua orang bisa melakukannya, tergantung lemah dan kuatnya niat. Jika tidak kuat secara materi maka bisa melalui fisik, pikiran, atau apa pun yang kita mampu. Bukankah tasbih, tahmid, dan tahlil nyaris tidak membutuhkan pengorbanan fisik dan materi sedikit pun dari pelakunya? Demikian pula amar makruf nahi mungkar.

Bahkan, ketika sepasang suami-istri menunaikan haknya masing-masing, di mana mereka bisa mereguk nikmatnya berkeluarga, justru di situ pun terbentang pahala. Karena, ketika hal itu disalurkan kepada yang haram maka pelakunya akan menuai dosa.
Demikian pula dengan perilaku seseorang ketika makan, minum, berbisnis, berjalan, belajar, bekerja, berbicara, menelepon, facebook-an, chatting, berinteraksi dengan sesama, dan aktivitas lainnya, semua itu tetap bernilai ibadah, sepanjang berada dalam koridor yang halal, menjalankan ketaatan, atau menghindari larangan. Karena itu, banyak ruang dan tempat untuk meraih keridaan Allah. Wallahu a‘lam bish-shawab.

Umar Al-Khatab Justice

Bukan Doa Kamu Yang Makbul Sebenarnya .... .
Bercakap fasal doa,
saya teringat satu kisah yang sangat-sangat memberikan kesan dalam kehidupan saya. Guru-guru saya di sekolah, semenjak sekolah rendah, sangat menerapkan doa. Jadi, saya sudah dibiasakan dengan Solat Hajat, Solat Dhuha, Qiamullail, waktu-waktu doa yang mustajab seperti ketika hujan dan sebagainya agar saya rajin berdoa, dan agar doa saya makbul. Jadi, bila Allah anugerahkan saya kejayaan, saya sentiasa rasa, itu sebab saya doa dengan bersungguh-sungguh. Namun satu cerita mengubah persepsi saya.

Cerita yang saya dengar itu begini:
Kisah berkenaan seorang abang dan seorang adik.
Kedua-duanya adalah anak yatim lagi miskin. Mereka tinggal di rumah pusaka tinggalan ibu bapa mereka. Kedua ibu bapa mereka adalah hamba ALLAH yang soleh. Kedua-dua anak dididik untuk bergantung harap dengan Allah SWT.
Si abang, saban hari berdoa agar ALLAH mengubah nasib hidupnya. Dia meminta kepada ALLAH agar dipertemukan dengan isteri yang cantik lagi kaya. Dia meminta kepada ALLAH agar dirinya kaya raya.
Si Adik pula, seorang yang buta huruf. Tidak seperti abangnya, dia membaca doa pun dengan melihat kertas. Sebelum bapanya mati, dia pernah meminta bapanya menulis sesuatu di atas kertas, dan kertas itu sering dipegangnya setiap kali berdoa.
Akhirnya, Allah mempertemukan seorang perempuan yang cantik lagi kaya dengannya. Perempuan itu jatuh hati kepadanya, lantas berkahwin. Si Abang seperti mendapat durian runtuh dan kehidupannya terus berubah. Dia keluar dari rumah pusaka, dan meninggalkan adiknya.
Si Abang akhirnya kaya raya, malah terus kaya apabila dia memasuki medan bisnes. Dia sudah mula alpa dengan ALLAH, melewat-lewatkan solah, jarang membaca Al-Quran, tapi tidak pernah lalai untuk meminta kekayaan daripada ALLAH. Kalau masuk dalam bab perniagaan, kekayaan dunia, maka berbondong-bondong doanya kepada ALLAH. Dan ajaibnya, Allah beri apa yang dia minta. Si abang rasa dia istimewa.
Si adik pula, hidupnya tidak berubah. Dia masih seorang sederhana, dengan kelemahannya sebagai seorang buta huruf, dia hannya mendapat kerjaya sederhana, terus menjaga rumah pusaka. Si adik, juga rajin berdoa. Si abang tahu, si adik rajin berdoa. Tapi Si Abang melihat, hidup adiknya tidak berubah-ubah.
Lantas satu hari, ketika Si Abang menziarahi adiknya, Si Abang berkata dengan sombong:
“Kau kena berdoa kuat lagi. Tengok aku, berdoa je ALLAH makbulkan. Kau ni tak cukup hampir dengan Allah ni. Berdoa pun masih tengok-tengok kertas. Tak cukup hebat.”
Si Adik tersenyum sahaja. Suka abangnya menegur kerana padanya, teguran abang amat bermakna.
Si Adik terus hidup sederhana, di dalam rumah pusaka, dengan doa melihat kertas saban hari, dan kehidupannya tetap tidak berubah. Tidak menjadi kaya seperti abang.
Satu hari, Si Adik meninggal dunia. Ketika Si Abang mengemas-kemas rumah pusaka, dia berjumpa satu kertas. Kertas itu adalah kertas yang adiknya sering pegang ketika berdoa.
Si Abang menangis teresak-esak apabila membaca kertas kecil itu.
Kertas itu tertulis: “ Ya Allah, makbulkan lah segala doa abang aku”
MasyaALLAH…
Si Abang mula membandingkan dirinya dengan adiknya. Adiknya kekal taat kepada ALLAH dan tidak meringan-ringankan urusannya dengan ALLAH SWT. Adiknya, sedikit pun tidak meminta dunia kepada ALLAH, malah tidak meminta apa-apa untuk dirinya. Tetapi adiknya meminta agar segala doa Si Abang dimakbulkan. Si Abang, tidak pernah sedikit pun mendoakan Si Adik.
Si Abang mula nampak, rupanya, bukan doa dia yang makbul. Tetapi doa adiknya telah diterima oleh ALLAH SWT, lantas segala doanya menjadi makbul.
Cerita ini meruntun hati saya, dan buat saya sentiasa berfikir panjang.
Kadang-kadang kita, bila Allah realisasikan hajat kita, kita suka mengimbau usaha-usaha kita.
"Aku buat beginilah yang jadi begini."
"Doa aku makbul seh!"
"Aku ni memang Allah sayang. Tengok, semua benda Allah bagi. Aku minta je pun."
Tanpa sedar kita bongkak. Takabbur.
Sedangkan, kita tak tahu, mungkin yang makbul itu adalah doa ibu bapa kita, doa adik beradik kita, doa sahabat-sahabat kita. Bukannya doa kita.
Cerita itu sangat menyentuh hati saya.
Membuatkan setiap kali saya berdoa, saya tidak lupa mendoakan ibu bapa saya, guru-guru saya, keluarga saya, adik beradik saya, sahabat-sahabat karib saya, yang teramat akrab saya sebutkan namanya agar lebih merasai bahawa saya memerlukan mereka mendoakan saya juga.Kita ini banyak dosa. Banyak hijab.
Mungkin doa orang lain yang lebih bersih hatinya, lebih suci jiwanya yang makbul, menyebabkan rahmat Allah tumpah pada diri kita. Sebab itu jangan berlagak. Jangan tinggi diri. Jangan rasa doa kitalah yang makbul. Pulangkan semuanya kepada Allah. Doa itu sebahagian daripada usaha sahaja sebenarnya.
Dan jangan rasa segan nak minta orang lain doakan kita.
Semoga bermanfaat note ini.
Sebarkan jika anda rasa ada manfaatnya.
Semoga Allah redha dengan kita.
AMIN….

Khamis, 5 April 2012

Mukjizat Sholat Dan Doa

 
Sahabatku, aminkan doa ini memohon pd Allah agar berkenan melimpahkan rizki yg berkah & halal, memasukkan kita ke dalam surga. "Ya Allah, limpahkanlah kami rizki yg berlimpah, berkah & halal yg menyelamatkan kami & keluarga kami dari siksa api neraka, memasukkan ke dalam surga yg terindah disisiMu, juga untuk menolong saudara kami yg kesusahan. Lembutkanlah hati kami agar mengerti berempati dg penderitaan sesama. Ya Allah, kabulkanlah doa kami."